Sabtu, 10 Desember 2011

Berlomba ke Ruang Angkasa

Perang dingin memicu perlombaan misi ke ruang angkasa. Di Asia, China dan India terdepan.

Roket peluncur misi luar angkasa China, Shenzhou-8 (Reuters/China Daily)
VIVAnews—Tatkala Neil Armstrong bergerak di antara kaki-kaki modul bulan Eagle, dia melayang di gravitasi nol. Setelah enam jam menunggu, dia turun ke cekungan Mare Tranquillitas. Kakinya lalu menginjak Bulan, yang dulu hanya bisa dipandangi takjub warga Bumi.

"Ini langkah kecil bagi seorang lelaki, tapi langkah raksasa untuk umat manusia," kata Armstrong, didengarkan oleh 500 juta pemirsa televisi di bumi secara langsung pada 20 Juli 1969.

Menyusul Armstrong, turun Buzz Aldrin. Dia melayang limbung. Mereka berdua menancapkan bendera Amerika Serikat di Bulan. Di dataran tandus tanpa oksigen keduanya menghabiskan waktu dua setengah jam. Dalam rekaman video, terlihat salah satu astronot berlari-lari. Mungkin gembira merasakan sensasi tanpa bobot.

Misi Apollo 11, yang membawa Armstrong dan Aldrin ke Bulan, adalah pencapaian luar biasa bagi upaya manusia di luar angkasa. Inilah yang membuat AS lebih unggul dari Rusia yang kala itu masih berikhtiar mengirim kosmonaut mereka ke Bulan.

Di era perang dingin, kedua negara ini bersaing keras. Mereka ingin terdepan dalam soal teknologi antariksa. Tapi pertarungan keduanya, juga membuka jalan kompetisi antar negara lain di dunia.  Semua berlomba menjangkau jarak terjauh di tata surya.

Dalam soal ini, negara penghasil pesawat ulang-alik, dan satelit, harus berterima kasih kepada Jerman di Perang Dunia II. Tentara Nazi lah pada pertengahan 1930an mengembangkan roket balistik yang mampu terbang hingga ke luar angkasa.

Roket bernama Aggregate-4 (A-4) diuji coba pada 1942 dan 1943 itu, lalu diproduksi massal oleh Nazi dan diberi nama Vergeltungswaffe 2 (senjata pembalasan), atau lebih dikenal sebagai V2. Roket Jerman itu mampu melontarkan rudal balistik V2. Hulu ledaknya berbobot 1.130 kg, kecepatan 4.000 km per jam. Senjata ini digunakan Jerman menghajar Inggris dan Eropa Barat, yang dikuasai sekutu dari 1944 hingga 1945.

Setelah perang berlalu, tiga negara, yaitu AS, Soviet dan Inggris, berlomba merekrut anggota tim riset persenjataan Jerman. Sejak saat itu, roket V2 menjadi dasar rancangan awal roket antariksa AS dan Soviet. V2 juga menjadi pembuka jalan bagi teknologi antariksa lainnya yang lebih canggih.
Perang DinginPada masa Perang Dingin 1947 sampai 1991, kompetisi teknologi antariksa antara AS dan Soviet kala itu kian memanas.
Pada 1957, Soviet unggul dengan satelit sederhana prosteishy sputnik (PS-1). Empat tahun kemudian, Soviet juga melampaui AS, mengirimkan Yuri Gagarin mengorbit bumi. Dialah  manusia pertama ke luar angkasa, menggunakan pesawat ulang-alik Vostok 1. Sejak inilah istilah kosmonaut dikenal. Dalam bahsa Rusia, Kosmonaut berarti "pelaut semesta."

Tertinggal tiga pekan, awal Mei 1961, AS mengirimkan astronot pertama mereka, Alan Shepard ke luar angkasa. Alan menumpang kapal ulang-alik Freedom 7. Kata astronot diambil dari bahasa Yunani, berarti "pelaut bintang." Setahun kemudian, barulah AS mengirimkan John Glenn, astronot AS pertama mengorbit bumi.

Persaingan kian tajam, ketika Presiden AS kala itu John F Kennedy menyetujui misi mencapai Bulan, atau dikenal program Apollo. Tekad Kennedy adalah menerbangkan manusia ke bulan sebelum abad ke 20 berakhir. Apollo 11 inilah yang mengantarkan Armstrong dan Aldrin ke Bulan.

Tak hanya Soviet dan AS yang bertarung. Sejumlah negara-negara Eropa juga turut serta. Katakanlah, Jerman yang sukses menerbangkan satelit AZUR pada 8 November 1969, menggunakan roket Scout-B buatan AS.

Lalu, ada Prancis yang merancang roket Veronique yang melesat pada 1957. Pada kepemimpinan Charles De Gaulle di 1958, teknologi antariksa Prancis mendapatkan tempat prioritas pada salah satu program pemerintah.

Jika AS dan Soviet bersaing soal siapa lebih unggul, di Eropa ada Prancis dan Jerman yang berlomba menghasilkan teknologi tercanggih. Menurut bocoran kabel diplomatik Kedutaan Besar AS di laman WikiLeaks, kedua negara itu bersitegang dalam bidang ini.

Dilansir dari CNN, Januari 2011, Dubes AS mengatakan intelijen dan badan antariksa Jerman menuding Prancis punya itikad jelek. Selain itu, rencana lobi Prancis ke AS untuk pembuatan satelit juga dibongkar oleh Jerman.

Persaingan ketat antara negara-negara maju itu menimbulkan kekhawatiran baru. Siapa akan menguasai Bulan? Siapa pemilik antariksa? Dan apakah orbit akan menjadi tempat negara maju meletakkan senjata mereka?

Untuk itulah, pada 27 Januari 1967 Amerika Serikat, Inggris dan Rusia meneken Traktat Luar Angkasa,  atau Traktat Prinsip Pengaturan Aktivitas Negara-negara Dalam Eksplorasi dan Penggunaan Luar Angkasa, termasuk Bulan dan Benda-benda Langit Lainnya. Pada Oktober 2011, ada 100 negara tergabung dalam traktat ini. Sementara itu 26 negara lainnya belum meratifikasi.

Menurut traktat itu, luar angkasa dan seluruh benda angkasa adalah warisan bersama umat manusia (Common heritage of mankind), jadi harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kebaikan  manusia. Bulan dan seluruh benda di angkasa harus bebas dieksplorasi negara manapun tanpa diskriminasi. Orbit bumi juga tak boleh dipergunakan untuk menempatkan senjata nuklir.

Asia di mana?Di Asia, China boleh dibilang paling awal menengok potensi luar angkasa. Mereka menerbangkan satelitnya sejak 24 April 1970. Mereka sangat intens. Dari 1970 hingga akhir 2001, China telah meluncurkan 50 satelit. Tingkat keberhasilannya hingga 90 persen. Sejak 1986, China menjual pesawat ulang-alik untuk para pemilik satelit.  Bisnis ini cukup laris, karena kala itu industri kapal antariksa AS dan Eropa tengah mandek.

Kemajuan China paling gemilang adalah pada 2003, saat meluncurkan pesawat Shenzou 5 yang diawaki oleh seorang astronot. Dengan ini, China adalah negara ke tiga di dunia, setelah AS dan Rusia, yang menerbangkan manusia ke luar angkasa. Misi ini diulangi pada 2005 dan 2008.

Pada September tahun ini, teknologi China meningkat pesat dengan mengirimkan modul laboratorium angkasa Tiangong-1 ke luar angkasa. Lab ini digabungkan secara otomatis di orbit bumi dengan pesawat ulang alik Shenzou 8. Ini adalah tahap kedua dari tiga tahap ambisius China untuk membuat stasiun seberat 60 ton di luar angkasa.

Stasiun China ini jauh lebih ringan dibandingkan stasiun luar angkasa internasional milik AS, Rusia, Eropa, Kanada dan Jepang, yang berbobot hingga 400 ton.

Selain China, India juga maju dalam teknologi antariksa. Dimulai pada 1960an, India sudah menerbangkan roketnya di atas Kerala. Pada kepemimpinan Vikram Sarabhai, bidang antariksa India semakin maju pesat. Termasuk pemakaian satelit komunikasi dan pemantau udara.

Pada Oktober 2008, India mulai berkelana ke ruang angkasa. Mereka mengirimkan pesawat ulang-alik nirawak, Chandrayaan-1 ke Bulan.
Organisasi Riset Antariksa India (ISRO) telah merencanakan misi kedua mereka ke bulan pada 2013. Target mereka pada 2016 adalah mengirimkan astronot ke Bulan. Bahkan saat ini ISRO tengah mempersiapkan misi selanjutnya ke Mars.

Selain kedua negara itu, Jepang juga patut diperhitungkan dalam soal antariksa. Jepang belum meluncurkan misi ulang-alik apapun, namun telah mengembangkan satelit pengintai untuk memantau aktivitas musuh mereka, Korea Utara, sejak 1998. Jepang khawatir, Korut memiliki rudal nuklir yang akan digunakan menyerang mereka.

Selain ketiga negara ini, beberapa negara lainnya di Asia juga sudah mulai meningkatkan teknologi antariksa mereka. Sebut saja Korea Utara yang telah beberapa kali meluncurkan satelit ke luar angkasa. Korea Selatan adalah pemain baru, tapi satelit pemantau militernya tak bisa dianggap enteng. Malaysia bahkan sudah mulai mengembangkan satelit mereka sendiri, dan merencanakan peluncuran fasilitas luar angkasa nirawak di masa depan.

Indonesia?
Di jagad teknologi antariksa, Indonesia boleh dibilang lumayan di kawasan Asia Tenggara. Tercatat, Indonesia adalah negara pertama meluncurkan satelit buatan dalam negeri, yaitu Palapa, pada 8 Juli 1976. Soewarto Hardhienata, Deputi Teknologi Dirgantara Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), mengatakan kala itu Indonesia adalah negara ketiga yang punya satelit domestik, setelah AS dan Kanada.

"Posisi Indonesia di dunia, dalam bidang teknologi antariksa, berada di tengah-tengah. Di ASEAN kita lebih unggul, tapi kalau di Asia kita kalah dengan Jepang, India dan China," kata Soewarto kepada VIVAnews, Kamis 8 Desember 2011.

Selain Palapa, Lapan terus mengembangkan generasi baru satelit pencitraan. Pada 2007 lalu, Indonesia meluncurkan satelit kelas mikro berbobot 70 kg, dengan nama Lapan-Tubsat atau satelit Lapan-A1. Satelit Lapan-Tubsat ini dikembangkan dengan kerjasama Lapan dengan Technishe Universitaet Berlin Jerman. "Satelit ini digunakan untuk pengamatan permukaan bumi," kata Soewarto.

Ke depannya, Soewarto menuturkan, Indonesia punya dua satelit lagi yang akan diluncurkan pada 2012 dan 2013. Yaitu, satelit kedua adalah Lapan-Orari. "Satelit ini unutk pengamatan bumi, monitoring kapal dan komunikasi bantuan bencana," jelas Soewarto.  Satelit ketiga adalah Satelit Lapan-IPB, untuk untuk penginderaan jauh untuk program ketahanan pangan.

Dalam bidang persatelitan, Indonesia bisa diadu. Namun soal teknologi roket, Indonesia jauh tertinggal. Selama ini, peluncuran satelit dilakukan dari India yang  memiliki teknologi satelit dan landasan peluncur roket.

Pengetahuan soal pembuatan roket, kata Soewarto, adalah pengetahuan mahal dan tidak bisa ditransfer begitu saja. Pengatur beredarnya pengetahuan itu salah satunya adalah Missile Technology Control Regime (MTCR) yang beranggotakan 34 negara pemilik pengetahuan roket. Berdasarkan peraturan di rezim tersebut, pengetahuan roket tidak boleh ditransfer ke negara-negara berkembang.

Namun, saat ini Lapan tengah mengembangkan teknologi roketnya sendiri. Teknologi dikembangkan Lapan adalah meningkatkan kemampuan roket Sonda daya jangkau RX-250 sejauh 60 km untuk mencapai daya jangkau RX-550 sejauh 200-300KM. Roket ini nantinya dapat dimanfaatkan untuk keperluan pertahanan.

sumber